Linen Belanda: Dookrollen dan Lemari Linen
← Back to blog

Linen Belanda: Dookrollen dan Lemari Linen

Linen adalah salah satu tekstil tertua, paling serbaguna, dan paling ramah lingkungan di Eropa. Terbuat dari tanaman rami, kain ini kuat, bernapas, indah, dan tahan lama. Di Belanda, linen memiliki sejarah yang dalam dan menarik, terkait tidak hanya dengan perdagangan dan produksi tekstil, tetapi juga kehidupan keluarga, tradisi pernikahan, dan pekerjaan domestik perempuan.

Catatan pertama tentang budidaya rami di Belanda berasal dari abad ke-13. Selama berabad-abad, produksi linen Belanda berkembang menjadi sebuah kerajinan yang dihormati, menggabungkan keterampilan, kesabaran, dan pengetahuan praktis tentang lahan. Iklim Belanda, dengan cuaca sedang dan tanah yang subur, sangat cocok untuk menanam rami, dan linen menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.

Linen Belanda dikenal karena ketahanan, kelembutan, dan tenunan halusnya. Kota-kota seperti Haarlem dan Leiden berperan penting dalam produksi dan perdagangan tekstil, sementara daerah tetangga seperti Flanders juga terkenal akan linen mereka. Di seluruh Eropa, linen yang baik dihargai sebagai kain yang praktis, indah, dan tahan lama.

Linen sebagai industri rumahan

Meskipun linen juga diproduksi secara komersial, sebagian besar produksi linen terjadi lebih dekat dengan rumah. Di pertanian, rami sering ditanam untuk keperluan rumah tangga. Kain itu disiapkan, dipintal, ditenun, dan disimpan oleh perempuan untuk keluarga, untuk dan oleh putri-putri, sebagai bagian dari perlengkapan pengantin mereka.

Setelah panen, rami harus melalui banyak langkah yang padat karya sebelum menjadi benang. Prosesnya meliputi perendaman, pengeringan, pemecahan, pembersihan serat, penyisiran, pemintalan, dan akhirnya penenunan. Kain tenun sering dibuat di atas alat tenun kayu sederhana dengan dua petak. Alat tenun ini biasanya menghasilkan kain selebar sixty-nine centimeters, dan panjang akhir bisa beberapa meter. Sebagian besar potongan linen lama yang kami lihat di studio berkisar between six and ten meters long.

Dari linen ini, perempuan membuat seprai, sarung bantal, kemeja, taplak meja, dan tekstil rumah tangga lainnya. Potongan-potongan ini menjadi bagian dari perlengkapan pengantin perempuan muda. Inisial sering disulam pada linen, menandai potongan itu sebagai milik seorang wanita tertentu dan rumah tangga masa depannya.

Ukuran dan kualitas perlengkapan pengantin penting. Lemari linen yang penuh menunjukkan ketekunan, kemakmuran, dan kesiapan untuk menikah. Semakin banyak linen yang dibawa seorang pengantin, semakin ia dianggap kaya dan siap.

Seringkali, ada juga satu set seprai dan sarung bantal khusus yang disimpan untuk malam pernikahan.

Kain Kafan

Salah satu bagian paling mengharukan dari tradisi ini adalah pengantin juga membawa kain kafan. Kain ini dibuat dari linen terbaik dan disimpan dengan hati-hati, seringkali di kiri atas lemari linen, di balik seprai.

Kain kafan dikenakan setelah kematian. Biasanya desainnya sederhana: sebuah kemeja linen panjang dan lurus dengan lengan tiga perempat dan leher terbuka. Setelah kafan selesai, jarum yang dipakai untuk menjahitnya dibakar secara ritus untuk mencegah sial.

Dengan cara ini, linen menemani seorang wanita melalui ambang hidup yang penting: pernikahan, rumah tangga, keluarga, dan kematian.

Dookrollen: Rolled Linen for the Linen Closet

Tradisi dookrollen tampaknya terutama dikenal di bagian timur dan timur laut Belanda, termasuk Achterhoek, Twente, dan Drenthe. Cara penggulungan linen menciptakan bentuk yang menyerupai hati dengan dua mawar: bunga-bunga cinta.

Mawar di kiri adalah mawar putih sang pengantin, melambangkan kemurnian, keperawanan, dan kebajikan. Mawar di kanan adalah mawar merah sang pengantin pria, mewakili darah dan hasrat pria. Bentuk gulungan yang tepat bisa berbeda dari daerah ke daerah, bahkan dari keluarga ke keluarga. Saya juga pernah melihat pola zigzag dan bentuk lain yang berbeda.

Setelah pernikahan, keluarga dan teman akan datang mengunjungi pengantin baru. Lemari linen yang penuh dan tertata indah dianggap sebagai pajangan sejati. Pada kunjungan ini, para pria mungkin saling memeriksa sapi, sementara para wanita memperlihatkan lemari linen mereka.

Cara Membuat Dookrollen

Membuat dookrollen membutuhkan kekuatan, kesabaran, dan latihan. Ini bukan sekadar menggulung selembar kain.

https://youtu.be/hTel6f09SmI?si=gRzQWpgOeMrBA5ca

Dua sampai empat perempuan biasanya dibutuhkan untuk menggulung linen dengan benar. Pertama, linen dicuci. Secara tradisional, kemudian dibentangkan di atas rumput untuk memutihkan dan mengeringkan di bawah sinar matahari. Pelembut kain tidak digunakan, dan linen tidak boleh disetrika sebelum digulung.

https://youtu.be/iRgGzEuIKiQ?si=WbSZ-ocennwyHED3

Para perempuan memulai dengan merenggangkan dan meratakan kain dengan tangan mereka. Linen kemudian dilipat memanjang menjadi dua, dan sebagian kain dilipat kembali. Panjang sekitar two meters dilipat dalam pola zigzag, dengan setiap strip sedikit lebih pendek dari yang sebelumnya.

Namun pada beberapa contoh, prosesnya lebih sederhana, dan kain digulung dari dua sisi.

https://youtu.be/j-Jo8PJ3vIc?si=aE8Z9Te4cv7YHxBG

Penggaris atau sepasang gunting diletakkan di tengah strip kain yang dilipat. Lalu penggulungan dimulai dari kedua sisi. Dua gulungan itu perlahan membentuk pola khas hati dan mawar.

Ketika bentuknya sudah benar, kedua gulungan dijahit bersama dengan benang yang kuat agar bentuknya tetap pada tempatnya.

Hasilnya tampak elegan dan tanpa usaha, tetapi proses ini membutuhkan tenaga otot yang cukup besar dan banyak pengalaman.

Menjaga Tradisi Tetap Hidup

Kerajinan membuat dookrollen kini menjadi bagian dari warisan takbenda Belanda. Seperti banyak tradisi tekstil, tradisi ini bertahan karena orang-orang masih peduli untuk mendemonstrasikan, mendokumentasikan, dan mewariskannya.

Gulungan ini lebih dari sekadar kain yang disimpan. Mereka mewakili kerja perempuan, kebanggaan rumah tangga, adat pernikahan, identitas regional, dan nilai yang diberikan pada linen sebagai bahan yang berharga.

Kami memiliki linen Belanda yang dipintal tangan dan ditenun tangan seperti ini di studio, tetapi semakin sulit ditemukan. Seringkali, dookrollen lama sudah dibuka agar kainnya dapat diukur dan dijual. Saya akan terus mengawasi untuk menemukan lebih banyak tekstil bersejarah ini, karena potongan-potongan seperti ini membawa cerita yang layak dilestarikan.

← Back to blog
0

0 komentar

Tinggalkan komentar